oleh

Begini Dampak Industri Tahu Tempe di Sinjai Dari Kenaikan Harga Kedelai

KABARSINJAI.COM, Sinjai, –Kenaikan harga bahan baku kedelai terhadap industri tahu tempe di Indonesia cukup memberi dampak pada jumlah produksi setiap harinya.

Sama seperti di Kabupaten Sinjai, pengrajin atau pengusaha tahu tempe harus memutar otak agar industri yang digeluti sebagai penopang hidup tetap berjalan.

Pengusaha tahu tempe Reski Bua, di Jalan Sungai Tangka, Hj. Samsuddin contohnya yang mengeluhkan tingginya harga bahan baku kedelai yang telah berlangsung selama sebulan atau sejak Desember 2020 lalu.

Jika sebelumnya harga bahan baku kedelai dibeli H Samsuddin Rp7 ribu per kilogram, kini menjadi Rp9 ribu per kilogram.

BACA JUGA: Inilah 4 Atlet Sinjai yang Bakal Unjuk Gigi di PON XX Papua

Akibatnya, H Samsuddin harus mengurangi jumlah produksi tahu tempe yang sebelumnya berkisar 400 ton per bulan atau sekitar 10 ton perhari, kini hanya 5 ton perhari.

“Biasanya saya produksi 10 ton perhari atau 10 cetakan tapi karena harga kedelai naik drastis, sekarang hanya 5-6 ton saja per hari”, kata H Syamsuddin yang ditemui, Selasa (5/12/2020)

Belum jelas faktor dari kenaikan harga kedelai, meski demikian pihaknya akan tetap beroperasi selama persediaan bahan baku kedelai ada. Termasuk tidak ikut menaikkan harga tahu tempe yang dijual ke pedagang.

“Kalau faktor kenaikan mungkin karena kedelai yang kurang, tapi Alhamdulillah kami tetap beroperasi dan harganya tidak kami naikkan tetap normal. Untuk tahu Rp1000 per biji dan tempe Rp3.500”, jelasnya.

H Samsuddin berharap kenaikan harga bahan baku kedelai ini tidak berlangsung lama dan segera mendapat perhatian pemerintah sehingga harganya kembali normal.

BACA JUGA: Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah Menunggu Keputusan Baru Menteri

Lain halnya dengan H Samsuddin, Rida pemilik industri tahu tempe rumahan di Jalan Lasiai mengaku harus mengubah irisan atau potongan tahu tempe agar tidak mengalami kerugian akibat meningkatnya harga kedelai.

“Produksinya tetap sama termasuk harganya, cuma ukuran tahu lebih kecil irisannya dibanding sebelumnya”, ucap Rida.

Kendati demikian, Rida tetap bersyukur karena industri tahu tempe rumahan miliknya masih tetap bisa beroperasi karena pasokan kedelai tetap lancar. (Ay)

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU