oleh

‘I Cella TaddampaliE dalam Rumpa’na Mangngarabombang’, Kisah Rakyat Sinjai melawan Belanda tahun 1825

KABARSINJAI.COM, Sinjai, – Sejarah Aceh telah melahirkan seorang perempuan berkharisma bernama Cut Nya’ Dien, yang dalam separuh bilangan usianya iya habiskan dalam pertempuran demi pertempuran..

Sejarah Cut Nya Dien ini kemudian dibaca berulang kali oleh zaman secara transformatif, perjuangannya adalah pengingat bahwa perempuan adalah gendangnya perlawanan dan sinisme patriarki itu harus dilawan.

Mei 1964, Cut Nyak Dien diberi gelar pahlawan oleh Presiden Sukarno. Tetapi, Enam Pulun Tahun sebelum Cut Nya’ bertempur melawan Belanda. Di Sinjai sudah hidup terlebih dahulu seorang perempuan bernama I Cella TaddampaliE. Seorang pemimpin perempuan di wilayah Bulo-Bulo (Tellu LimpoE) -Sinjai yang hidupnya enggan berafiliasi dengan Belanda..

I Cella bilang, “Walau Bulo-Bulo dalam keadaan genting sebab Belanda telah datang dengan persenjataan yang kuat, sejengkalpun tanah di Bumi Tellu LimpoE tidak akan dilepaskan kepada siapapun sebelum melangkahi mayatku”.

Belanda datang untuk membaharui Perjanjian Bongaya pada tahun 1824, dan ia telah mempersiapkan ekspedisi militer untuk memerangi siapa saja bendera kerajaan yang enggan berkibar bersama-sama dengan Bendera Belanda.

Dan di awal tahun 1825, berangkatlah 7 kapal berang belanda untuk menyerang Tellu LimpoE, 5 Kapal perang pengangkut pasukan yang ditaksir mengangkut 2.200 serdadu keturunan Eropa dan hulkkorpos sebanyak 1800 serdadu dari Madura dan Surabaya di bawah komando Mayor Jenderal J.J Van Geen.

Setelah tersiar kabar bahwa belanda hendak menyerang Bulo-Bulo, maka Raja Bulo-Bulo I Cella memanggil Sulewatang Bulo-Bulo Lainro dg Mattiro bersama panglima peran lainnya seperti; Tolere Pasandre’na Kampala Tondong, La Sulappe dg Sisila Arung Lamatti, La Makkaroda Baso Kalaka Panglima perang tellu limpoE, I Sangngira dg Magessa Sullewatang Lamatti dan La Pattaro dg Pacidda Sulewatang Terasa & Manimpahoi..

Setelah itu, Baso Kalaka lalu menghubungi La Makkuseng dg Pawindru pasandre awang tangka, La Mappakali petta tulolo datu tungke’na bulutana, la mandasini sulewatang patimpeng yang kelak dalam pertempuran mangngarabombang menjadi pemimpin perang Tellu LimpoE..

Adapula bantuan dari Raja Bone mengirimkan tambahan bantuan 6 buah meriam dan sejumlah tentara di bawah pimpinan La Pareppa Petta Parate dan La Pateppo Petta Lawu.

Menurut Jenderal Van Geen, berdasarkan data Intelijen yang masuk, perkiraan Pasukan Perang TelluLimpoE berkisar 14.000 orang bersenjata dan sebagian besarnya adalah pasukan berkuda. Mengambil posisi mulai dari Lappa, Biringere, Batu Lappa sampai Kaloling ujung selatan garis pertahanan TellulimpoE dengan trugval basis di Perbukitan di belakang garis pertahanan.

Setelah para pasukan tiba di Ibukota Kerajaan Bulo-Bulo, dikisahkan dengan hiperbolik bahwa hari itu seakan akan kerajaan Bulo-Bulo hendak runtuh di pijak kaki para pemberani yang jumlahnya belasan ribu orang.

Ketika matahari sebentar lagi akan terbenam di pertengahan Maret 1825, Raja Bulo-Bulo mempersilahkan para pabarani masuk istana. Para pemimpin pasukan mengucapkan ikrar-ikrar keberanian di hadapan Raja Bulo-Bulo.

Setelahnya, La Makkaroda bersama Para pemimpin pasukan menyiapkan strategi perang lalu mengevakuasi Raja Bulo-Bulo ke Patimpeng. Saat evakuasi Raja, Lainro mengambil alih kekuasaan dalam masa perang berlangsung sebagai panglima tertinggi angkatan perang tellulimpoE.

Tanggal 19 Maret 1825, serangan armada Belanda dimulai, Induk pasukan kerajaan Bulo-Bulo beserta laskarnya dari kerajaan Awang Tangka menempati benteng Mangarabombang dan tokoh-tokoh di bawah pimpinan panglima kerajaan Bulo-Bulo Baso Kalaka.

Laskar kerajaan Tondong menempati Tui di bawah pimpinan Tolere Daeng Palinge’. Laskar kerajaan Patimpeng di bawah pimpinan Mappabali Petta Tulolo menempati Pasahakue dari Baringeng.

Laskar kerajaan Lamatti menempati Larea-rea dan Sungai Tangka di bawah pimpinan I Bangnya Dg. Sisila dan Laskar gabungan lainnya di bawah pimpinan La Muhammad dan laskar Cakkela di bahwah pimpinnan La Mattanete menempati sebuah benteng paling selatan. Sementara Pasukan Induk Besse Kajuara bersama utusan Tellu PoccoE mempertahankan pelabuhan Bajoe, yang dipimpin oleh Arung Amali bersama Besse Kajuara.

Dan akhirnya pendaratan pasukan marinir di Mangngarabombang dimulai, pertempuran itu berkobar dan berlangsung sengit empat hari empat malam. Pasukan darat dan laskar bantuan dari arah Kajang setelah melalui pertempuran pasukan TellulimpoE di Kaloling sepanjang jalan menuju Baringeng itu langsung ikut terjun dalam medan pertempuran yang sengit di Mangngarabombang

Alat perang Belanda yang tergolong canggih dimasanya tersebut singkatnya mampu diimbangi oleh keterampilan dan mobilitas Pasukan berkuda TellulimpoE dari arah Batulappa sebelah Barat Mangngarabombang yang secepat kilat dan terus-menerus menyambar posisi pasukan Belanda di medan pertempuran yang menyebabkan ratusan korban dari kedua belah pihak.

Jenderal Van Geen lalu memutuskan menarik pasukannya karena tidak menemukan Raja Bulo-Bulo dan mengalihkan peperangan di Bajoe dan Watampone dengan maksud menyergap Raja Bone. Tetapi beliau pun sudah dievakuasi ke Pasempe. Maka gagal total lah misi Belanda menduduki Tellu LimpoE.

Jenderal Van Geen atas Perintah Gubernur Hindia Belanda kemudian menarik pasukannya kembali ke Jawa. Sebab secara bersamaan, kedudukan Belanda terancam oleh pemberontakan Pangeran Diponegoro.

I Cella sebagai Pemimpin tertinggi dalam sejarah Perang tersebut sepanjang kisah hidupnya tak sekali pun takluk kepada Belanda. Ia adalah perempuan yang anti terhadap Belanda.

Barangkali, lewat momentum 10 November dimana hari Pahlawan ini. Sinjai dapat memperjuangkan sosok I Cella sebagai seorang Pahlawan.

Penulis : Andi Sudhas Rishal Sawil

Sumber :
– Lontara Bulo-Bulo.
– Kamaruddin, Bundel Salinan Perjuangan Bulo-Bulo melawan Belanda di Sinjai.
– Lontarak Selatan
– Basrah Gissing, Sejarah Kerajaan Bulo-Bulo, Tondong, & Lamatti.
Percakapan Obrolan Berakhir

Editor/Andis

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU