oleh

Inilah Alasan Tidak Boleh Memukul Anak, Cek Disini Dampaknya

KABARSINJAI.COM, Sinjai, – Bahaya memukul anak bisa menimbulkan trauma, bahkan kekerasan berulang pada generasi berikutnya. Hentikan kebiasaan buruk ini sekarang juga.

Apakah Anda terbiasa memukul bokong anak jika dia berbuat nakal? Atau menamparnya jika dia tidak bisa meraih nilai tertinggi di kelasnya? Orangtua harus menyadari bahaya memukul anak sebelum terlambat. Hentikan kebiasaan buruk tersebut sekarang juga.

Selain menciptakan trauma, kemungkinan besar anak akan menjadi pelaku kekerasan pada teman mainnya. Atau yang lebih buruk, bahaya memukul anak diwariskan kepada keturunannya nanti. Tentu Anda tidak mau hal ini terjadi bukan?

Simak apa saja bahaya memukul anak, agar Anda sadar bahwa kekerasan bukanlah jawaban dalam menghadapi masalah dengan anak.

1. Bahaya memukul anak: menciptakan tradisi kekerasan berulang

Masa kanak-kanak adalah masa ketika seseorang meniru semua yang dilakukan orang dewasa. Bila Anda terbiasa memukul saat memarahi anak, jangan heran jika kelak melihatnya melakukan hal  sama pada adiknya.

Kebiasaan orangtua memukul akan menciptakan persepsi dalam diri anak, bahwa kekerasan boleh saja dilakukan. Sehingga dia akan bersikap agresif, dan memiliki kecenderungan memukul teman sebaya saat ada masalah. Lebih daripada itu, anak juga akan mengadopsi metode kekerasan saat dirinya dewasa dan menjadi orangtua.

Baca Juga: Kualitas Pengaspalan Ruas Dompili-Batu Lappa Disorot, Mappahakkang: Banyak yang Retak

Mungkin Anda bermaksud baik dengan memukul anak, atau tidak terlalu keras saat memukulnya. Tapi, yang akan diingat anak adalah kekerasan bisa dijadikan alat untuk mengungkapkan emosi. Akibatnya, dia bisa melakukan hal sama kepada orang lain.

Sadari hal ini, dan hentikan kebiasaan memukul anak dengan alasan apapun juga.

Selain pukulan, kekerasan verbal seperti bentakan, teriakan atau ancaman pada anak jika dia tidak berkelakuan baik juga sama buruknya. Hal ini akan memberi kesan bahwa anak tidak cukup berharga untuk dicintai orangtuanya sendiri.

2. Bahaya memukul anak: merendahkan nilai diri anak

Citra diri anak dibangun dari persepsi orang lain tentang dirinya. Apabila dia terbiasa dipukul oleh orangtua, dia akan merasa dirinya lemah dan tak berdaya.

Bahkan di dalam keluarga yang penuh cinta sekalipun, kekerasan kecil seperti tamparan di bokong, atau pukulan dengan penggaris di telapak tangan, akan membuat anak memiliki persepsi ganda terhadap citra dirinya di mata orangtua.

Di satu sisi orangtua terlihat mencintainya, dengan memenuhi segala kebutuhannya. Namun di sisi lain, kekerasan yang dilakukan orangtua juga menorehkan luka batin yang tidak akan sembuh dalam waktu lama.

Hal ini akan menimbulkan kebingungan dalam diri anak, sehingga dia tidak bisa menentukan nilai dirinya sendiri. Apakah dia seseorang yang disayangi, atau seseorang yang bisa disakiti jika melakukan kesalahan kecil?

Bila sejak kecil dia terbiasa menerima kekerasan dari orangtua, Anak akan sulit membela dirinya dari bullying ketika dewasa.

3. Bahaya memukul anak: menurunkan nilai Anda sebagai orangtua

Seringkali, aksi memukul atau membentak anak membuat orangtua dihantui perasaan bersalah. Bahkan terkadang muncul perasaan gagal menjadi orangtua, karena tidak bisa mengendalikan emosi saat berhadapan dengan anak. Namun, karena tidak tahu apalagi yang harus dilakukan, orangtua akhirnya melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Orangtua adalah sosok orang dicintai, dihormati dan dipercaya oleh anak. Bukan ditakuti. Apabila anak sering menerima kekerasan dari orangtua, rasa hormat yang ia miliki pada ayah atau ibunya lama-lama akan terkikis. Hingga timbul perasaan benci pada orangtua sendiri.

Komentar Facebook

BERITA TERBARU