oleh

Pendidikan Karakter di Persimpangan Generasi

Oleh: Muhlis Pasakai (Praktisi dan Pemerhati Pendidikan)

KABARSINJAI.COM, Opini, – Sebelum menikah aku pernah dinasihati salah seorang senior yang waktu itu masih menempuh studi magister di salah satu perguruan tinggi di Timur Tengah. Ia mengatakan bahwa ada karakter dasar seorang wanita yang terkadang sulit berubah. Seorang wanita yang sudah berpenampilan syar’i dan aktif mengikuti pengajian bukanlah sebuah jaminan sifat-sifat dasar atau karakter bawaannya yang tidak/ kurang baik segera berubah menjadi aduhai sebagaimana yang kita dambakan.

Merubah kepribadian dan karakter seorang manusia memang tidaklah semudah menyaksikan akrobatik tukang sulap di atas panggung, kendati teori-teori pendidikan berjibun jumlahnya. Membentuk karakter seseorang bukanlah sejenis membentuk bahan lunak yang dimasukkan dalam cetakan, tapi ia adalah pembiasaan dan keteladanan yang tertanam dalam diri seorang manusia seiring pertumbuhannya. Hal inilah yang menjadi prinsip penyelenggaraan pendidikan karakter dalam Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Pasal 5.

Pendidikan karakter adalah tema yang akhir-akhir ini selalu menjadi bahan kajian dan diskusi berbagai kalangan khususnya bagi praktisi dan pemerhati pendidikan, meskipun sebetulnya bukanlah hal yang baru, karena pendidikan karakter sudah pernah diluncurkan sebagai gerakan nasional pada tahun 2010. Pendidikan karakter ini kembali digaungkan dan diperkuat menjadi gerakan nasional pendidikan karakter bangsa melalui program nasional Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai implementasi salah satu butir nawacita Presiden Joko Widodo.

Lembaga pendidikan dianggap sebagai sarana strategis bagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki struktur, sistem dan perangkat yang tersebar di seluruh Indonesia dari daerah sampai pusat. Namun pendidikan formal tidaklah cukup kuat untuk menyangga tantangan karakter yang kian hari makin tak terkendali. Korupsi, sadisme, hoax, bullying adalah contoh buruk permasalahan yang mengancam karakter luhur anak negeri.

Meskipun nilai-nilai utama karakter yang dimaksud adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong dan integritas sebagaimana nilai-nilai utama Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), namun setiap kita mendengarkan kata “karakter”, maka yang paling pertama bertalian dengannya adalah etika, sopan santun, adab dan tutur kata. Di tengah-tengah masyarakat, inilah yang menjadi ikon utama istilah karakter. Seseorang yang nasionalis dan mandiri, rajin melaksanakan ibadah misalnya, tapi tidak menunjukkan adab dan sopan santun dalam berinteraksi, maka akan tetap dianggap tidak berkarakter.

Sejauh ini saya masih meyakini bahwa program pendidikan karakter tidak akan berhasil apabila diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan formal. Justru kekuatan utama pendidikan karakter berada di lingkungan keluarga, orang tualah yang memiliki tanggung jawab pertama dan utama dalam menanamkan karakter pada sang anak. Menyibukkan guru dengan administrasi perangkat pembelajaran yang berjubel, serta kurikulum yang tak bosan-bosannya berubah bukanlah jalan terbaik mewujudkan pendidikan karakter tanpa keterlibatan maksimal dari pendidikan keluarga.

Orang yang dari kecil hidup bersama orang tua yang disiplin, peduli kebersihan, tegas, akan tumbuh menjadi anak yang mewarisi sifat dan kebiasaan itu. Begitupula sebaliknya, seorang anak yang dirumahnya terbiasa “rantasa”, bebas, manja, juga akan terbawa hingga dewasa bahkan sampai tua. Itulah kenapa seseorang yang biadab biasanya disebut “kurang ajar”, artinya orang tuanya yang kurang mengajari anaknya.

Pengalaman saya selama ini di dunia pendidikan (mungkin secuil), kebanyakan anak-anak yang disebut “bermasalah” selalu berawal dari latar belakang keluarga, katakanlah perceraian orang tua, orang tua yang tidak tinggal bersama anaknya, orang tua yang permisif terhadap pergaulan bebas anaknya, orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, dan sebagainya. Ini semakin menguatkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditopang oleh keluarga.

Seiring masifnya gerakan penguatan pendidikan karakter ini, saya juga lebih cenderung mengatakan bahwa orang-orang tua dahulu lebih berhasil dalam melakukan pembinaan karakter pada anak-anaknya dibanding hari ini, tentu dengan tantangan yang lebih kompleks, diantaranya perkembangan IT. Saya acapkali terlibat pembicaraan dengan orang-orang tua yang menuturkan bagaimana anak-anak dimasanya dianggap jauh lebih beretika dibanding anak-anak zaman sekarang.

Pada kesempatan lain, sambil menunggu antrian di sebuah bank, saya mendengarkan obrolan guru-guru tua (mungkin sebagian diantara mereka sudah pensiun). Mereka membicarakan bagaimana peserta didik yang dahulu mereka ajar jauh lebih mudah didisiplinkan dibandingkan peserta didik zaman sekarang. Mereka mengatakan bahwa dahulu anak-anak itu dipelototi saja sudah mengerti kalau ia memiliki kesalahan, tidak perlu diteriak-teriaki, itu karena hasil didikan di masa itu. Zaman sekarang apabila pendidik melakukan pendisiplinan sebagaimana dahulu, akan dianggap melanggar UU Perlindungan Anak, melanggar HAM dan dapat dikenai hukuman, karena itulah anak-anak leluasa bertambah “fare-are”. Anak-anak zaman sekarang “dena’nami natoleangi taue” kata mereka. Salah seorang diantara mereka berkomentar bahwa karakter itu bermacam-macam, dan tentu ada karakter yang bisa berubah dengan pendekatan yang lembut (difalesye) dan ada juga yang memang harus dikerasi (dibampafa aju). Saya rasa apa yang barusan saya dengar itu memiliki banyak kesamaan dengan pandangan-pandangan saya.

Mungkin tidak asing juga bagi kita kisah-kisah lembaga pendidikan tradisional zaman dahulu yang sangat disiplin dalam menerapkan aturan, katakanlah di pesantren misalnya yang sangat tegas dan keras pembinaannya. Apakah hasil didikan mereka dianggap gagal? Menurut saya tidak, bahkan justru membentuk pribadi mereka menjadi kuat dan mandiri, tidak manja yang sedikit-sedikit mengadu dan mengeluh.

Saya juga masih ingat bagaimana orang-orang tua dahulu mengajarkan adab dalam berinteraksi. Bagaimana yang namanya duduk sebelum mengutarakan maksud pada orang lain, bagaimana yang namanya memegang sikut (matteteng sikku) ketika memberi atau menerima sesuatu dari orang lain, bagaimana diajari etika bertamu hingga sakralnya “fabbala tengngana bolae”, bagaimana yang namanya “mappatabe” ketika berjalan dihadapan orang, bagaimana memposisikan diri dihadapan orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Semua ini adalah didikan yang berawal dari keluarga inti, yang hari ini mungkin saja disepelekan, entah karena kesibukan orang tua atau memang dianggap tidak kompatibel lagi dengan modernitas.

Saya juga masih sempat menyaksikan bagaimana orang-orang tua dahulu ketika kedatangan tamu, mereka akan mengganti pakaiannya yang lebih layak dan mengenakan songkok untuk menjamu tamunya. Menghadapi hidangan makanan yang telah disajikan saja mereka sangat beradab. Belum lagi para perempuan yang sangat menjaga harga diri dan kewibawaan suaminya, konon dahulu para istri tidak akan meninggalkan suaminya yang sedang makan hingga selesai, ini contoh kecilnya. Menurut saya, nilai-nilai ini masih ada relevansinya dalam kehidupan rumah tangga hari ini, meskipun tentu akan dikritik habis-habisan oleh para aktivis gender atau pegiat feminis.

Perkembangan di berbagai bidang kehidupan yang semakin modern, mobilitas yang tinggi dan akses pergaulan global yang semakin bebas tentu saja menjadikan banyak hal pada masa lalu dianggap kurang relevan lagi pada hari ini, namun ada sebuah mahfudzot yang dikenal khususnya di pesantren-pesantren tradisional yang berbunyi almuhafazhatu ala al- qadimi as-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-Aslah, artinya memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.

Semoga bermanfaat! Allahu A’lam bi al-Shawab.

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU