oleh

Profesi Dokter di Tengah Gejolak Bangsa, ‘Politisasi Kesehatan VS Politik Kesehatan’

Oleh : Dr Moh Adib Khumaidi, SpOT

Ketua Terpilih PB IDI

Profesi kedokteran adalah profesi yang “padat harapan” Dapat dikatakan bahwa pasien dan keluarganya bahkan masyarakat disekitarnya menyerahkan sepenuhnya harapan akan upaya kedokteran atas gangguan yang dideritanya. H

Harapan besar yang kadang bahkan seringkali diikuti oleh ketidaktahuan (ignorance) pasien. Tuntutan bahwa suatu penyakit harus disembuhkan (resultante verbentenis) seringkali menjadi ukuran keberhasilan dokter untuk memenuhi harapan tersebut. Padahal sejatinya, ukuran keberhasilan pekerjaan profesi kedokteran terletak pada sejauh mana upaya kedokteran tersebut dilakukan.

Pada hakekatnya bagaimana dilakukan upaya untuk mengelaborasi lebih dalam dan menempatkan profesi dokter yang “padat harapan“ tersebut di tengah kondisi ketidaktahuan pasien, menjadi profesi yang dapat dinilai seutuhnya. Penilaian itu menyangkut dari sisi organisasi profesi dan peran keprofesiannya yang strategis, dari sisi pekerjaan keprofesiannya yang perlu ditata dalam sistem kesehatan yang baik, serta dari sisi perilakunya yang mesti diatur melalui mekanisme “meta regulasi”.

Profesi dokter di Indonesia mempunyai andil yang sangat besar dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa metafora kebangkitan nasional Indonesia berasal dari saat pendirian Boedi Oetomo yang digagas oleh para dokter pada saat itu.

Nasionalisme para dokter di Indonesia tidaklah perlu diragukan lagi sampai saat ini. Ilmu kedokteran terus mengilhami para dokter di Indonesia senantiasa kritis untuk “menyehatkan dan membangun” bangsa yang lebih baik dan merdeka. Bidang kedokteran mengajarkan metode, cara berpikir ilmiah dan metaphormetafor biologis dan fisiologis baru untuk mengevaluasi kondisi bangsa saat ini dan masa mendatang.

Para dokter di Indonesia mempunyai posisi yang ideal dan strategis untuk dapat melakukan diagnosa tubuh sosial” bangsa, kemudian meresepkan intervensi terapetik apa yang tepat untuknya dan menegaskan hal-hal yang dapat menghambat proses alamiah evolusi sosial.

Pengalaman sehari-hari para dokter mulai saat menjadi pelajar kedokteran juga mengilhami perkembangan pemahaman dan kesadaran berpolitik pada era tahun 1900-an. Selama masa pendidikan para pelajar kedokteran mudah merasa peka terhadap isu-isu budaya, sosial, ekonomi dan politik karena mereka secara berkala berhubungan dengan masyarakat luas (dikutip dari Buku “Merawat Bangsa” karya Hans Pols).

Kondisi global juga terjadi pada saat itu, tidak jarang para dokter terlibat dalam politik dan aktifitas politik, di Taiwan ada Ming-Cheng M.Lo, Jose Rizal di Filipina, Vincanne Adams di Nepal, Marcos Cueto dan Steven Palmer di Amerika Latin. Demikian juga Sun Yat Sen, Ramon Betances dan Che Guevara. Di Indonesia peran-peran politik pada saat itu diperankan oleh Tjipto Mangoenkoesoemo, Soetomo, Abdul rivai dan kawan-kawan.

Pada era paska kemerdekaan saat ini kondisinya tentulah berubah, perjalanan masa dari era penjajahan, kemerdekaan sampai saat ini membuat aktifitas para dokter mulai menanggalkan semua bentuk keterlibatan politik. Mimpi para dokter nasionalis yang digagas Boedi Oetomo telah meredup .

Saat ini surutnya peran dokter di Indonesia juga dipengaruhi arus perubahan- perubahan politik dan kebijakan. Era desentralisasi pemerintah daerah membuat posisi sosial dokter nasional telah terkikis bersamaan dengan program dan institusi kesehatan nasional sehingga menjadi “ dokter lokal”.

Melemahnya sistem surveillance yang berimplikasi munculnya penyakit- penyakit menular, disparitas penyediaan kesehatan baik tenaga medis dan tenaga kesehatan maupun ketersedian sarana prasarana dan infrastruktur kesehatan, belum adanya sinkronisasi/ keterpaduan antara sistim pelayanan kesehatan dengan sistim pendidikan kedokteran mengakibatkan timbulnya beberapa permasalahan dalam dunia pendidikan kedokteran di Indonesia.

Perkembangan kesehatan global yang mulai tahun 1900-an yang menjadi tantangan baru kesehatan internasional. Mulai dari HIV/AIDS, SARS, flu burung, ebola, flu babi dan saat ini yang lagi menjadi perhatian serius terkait dengan cacar monyet (monkeypox).

Penekanan lebih pada biosekuriti dan upaya untuk mencegah penyebaran penyakit menular bukan pada inisiatif horizontal melalui program jangka panjang untuk memperkuat layanan kesehatan nasional, pelayanan kesehatan primer, pendidikan kesehatan masyarakat atau keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya penyusunan inisiatif kesehatan.

Sementara para praktisi kesehatan termasuk para dokter berkutat dengan polemik dan permasalahan BPJS, kita dihadapkan dengan tantangan besar yang ditimbulkan oleh adanya laporan dari perusahaan konsultan keuangan Internasional Ernst and Young yang mendorong masuknya investasi internasional di sektor kesehatan di Indonesia.

Temuan awal Bank dunia yang juga menyatakan bahwa “ kurangnya dokter dan perawat berkualitas adalah tantangan utama” dalam pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini (Ripe for investment : The Indonesia Health care Industry post Introduction of UHC – London : Ernst and Young Global limited 2015 ).

Hal ini berpotensi terjadi perekrutan dokter dari negara lain untuk bekerja di Indonesia. IDI sudah mengingatkan konsekuensi dari arus penyediaan tenaga medis di era global saat ini.

Kesehatan saat ini belum dianggap sebagai modal utama kelangsungan Pembangunan Nasional. Cara pandang dan kepemimpinan yang masih memahami kesehatan sebagai pengobatan saja (paradigma sakit) dan tanggung jawab sektor kesehatan saja, bukan tanggung jawab semua sektor, tidak menempatkan kesehatan sebagai mainstream pembangunan nasional.

Kesehatan hanya sebagai “komoditas politik” dengan membawa konsekuensi “memanfaatkan” SDM bidang kesehatan sebagai komponen didalamnya, salah satunya adalah dokter.

Sudah saatnya para dokter mempunyai fokus dan perhatian serius serta membuka mata lebar-lebar terhadap masalah kesehatan yang terjadi dan solusi terbaik dalam mengatasinya. Para dokter harus terlibat aktif dalam membentuk tatanan perencanaan kesehatan Indonesia. Masalah kesehatan tidak serta merta diserahkan begitu saja kepada para politisi dan dijadikan agenda politik demi kepentingan tertentu.

Dalam komponen pembangunan kesehatan tidak akan terlepas dari peran sentral para dokter. Pada dokter adalah intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala bidakannya.

Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence). Saat ini tidak hanya dibutuhkan proses rekonstruksi tetapi perlu dikaukan revolusi pembangunan nasional yang menjadikan sistem kesehatan nasional sebagai salah satu pilar utamanya serta menempatkan kesehatan juga sebagai penopang utama ketahanan nasional dalam mewujudkan Indonesia Sehat yang berdaulat.

Peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia yang dicanangkan sejak tahun 2008 sebagai peringatan 100 tahun adalah upaya untuk membangunkan kesadaran para dokter terhadap semangat nasionalisme, membangkitkan kembali kebangkitan dunia kedokteran khususnya di Indonesia, mengembalikan para dokter kepada peran kepemimpinan yang pernah mereka mainkan di garda depan perjuangan bangsa.

Para dokter harus memainkan peran-peran sentral dalam politik kesehatan bukan hanya menjadi obyek dalam politisasi kesehatan. Bersama dokter” menyehatkan dan membangun bangsa” sebagai upaya pencapaian tingkat kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Riwayat Penulis : Dr Moh. Adib Khumaidi, SpOT adalah Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam rangka perayaan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke 111 yang diperingati pada hari ini, Senin 20 Mei 2019.

Berita ini telah tayang di Situs Berita INDONESIA BERITA

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU