oleh

Rasisme Papua Adalah Rasisme Indonesia. Hentikan!!

KABARSINJAI.COM, Opini, – Sejarah menampilkan dirinya dalam kejadian Politik Apartheid di Afrika selatan bukti nyata Negara mencapai klimaks dari politiknya, yakni Politik Rasisme.

Di sisi lain tokoh Marthen Luther yang menolak dan menentang keras politik rasisme karena wujud yang merendahkan harkat dan martabat masyarakat kulit hitam dari kulit putih.

Kejadian serupa di Alami di Tanah Papua, Tanah Nenek Moyang, Tanah Sejuta Sumber Daya Alam bahkan Tanah dari Indonesia itu sendiri.

Dimana orang Papua diserang oleh mereka yang katanya menyebut dirinya manusia dengan isu rasisme, seolah menganggap Orang Papua mirip dengan Binatang yang umumnya berada Di Indonesia.

Ikut andil dalam kegiatan tertentu yang berhaluan dengan norma politik dan sosial menamai masyarakat Papua sebagai Monyet, Babi, Anjing, dan lainnya.

Tentu saja, Lontaran ini tidak muncul bagaikan gerakan refleks saja, melainkan muncul karena martabat Orang Papua mirip seperti binatang yang mereka sebut walaupun sangat nihil sejenis binatang itu bertengger di Bumi Masyarakat Papua Tercinta.

Sangat miris memang melihat peristiwa Politik Rasisme di Indonesia ini, Mereka tidak mengerti bahwa Indonesia tercipta dari beragam suku, ras, adat, dan agama termasuk yang ada di Tanah Papua.
Frame BHINEKA TUNGGAL IKA (Berbeda beda tetapi tetap satu) seolah MATI SURI DI NKRI ini.

Umpatan rasisme tersebut sudah berulang kali kita dengar kapan dan dimana saja ketika dihadapi soal dengan orang papua. Yang teranyar kita peristiwa pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 – 17 Agustus 2019 ini bahkan kemarin 19 Agustus 2019 terjadi peristiwa menggemparkan di Asrama Papua, Kota Makassar.

Secara psikologis, Kita merasa nilai kemanusiaan kita dihina disamakan dengan nilai sejenis hewan liar itu. Pukulan psikologis tersebut bisa terakumulasi tumbuh menjadi ideologi alternatif diluar dari ideologi Pancasila.

Semakin dihina dengan umpatan rasisme, semakin termotivasi orang papua berjuang keras untuk segera keluar memisahkan diri dari Indonesia. Sikap ini adalah sebuah konsekuensi logis yang harus ditempuh oleh orang papua untuk menghindari cemoohan rasisme tersebut.

Lontaran-lontaran rasisme tidak hanya lahir di masyarakat umum bahkane wlahir dari mulut – mulut  para aparat ketika berhadapan dengan gerakan mahasiswa Papua di berbagai daerah luar Papua.

Dengan hal ini kita dapat berkesimpulan peristiwa rasisme sudah menjadi pandangan umum yang HARUS DI UBAH SETIAP INDIVIDU MANUSIA bahwa derajat kemanusiaan masyarakat papua ini tidak sama sama dengan sejenis hewan yang sering mereka sebut ketika melampiaskan amarah kepada orang papua.

[Wahyu Pratama Hasbi]

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU