oleh

Soal Limbah Industri Tahu Tercemar di Sungai Tangka, Ini Tanggapan DLHK Sinjai

KABARSINJAI.COM, Sinjai – Sejumlah warga yang tinggal di Sekitar Sungai Tangka, Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai mengeluh. Pasalnya, air di sungai itu menghitam dan beraroma tidak sedap.

Menurut warga, kejadian ini sudah berlangsung lama akibat diduga tercemar limbah hasil produksi pabrik tahu yang beroperasi disekitar sungai tangka tersebut.

“Jadi sejak pabrik tahu itu ada, air sungai tangka jadi hitam dan bau menyengat , tidak seperti dulu meski airnya surut tetap kelihatan jernih”, Ungkap Armansyah, Selasa (03/11) kepada media ini.

Tidak hanya itu, tercemarnya sungai tersebut juga menyebabkan rusaknya ekosistem sungai. “Dulu berbagai jenis ikan seperti ikan mujair bahkan kepiting banyak kita temukan disungai ini, tapi sekarang sudah langka atau hilang, akibat tercemar limbah pabrik tahu yang dibuang ke sungai secara secara asal-asalan”, Jelasnya.

Ia berharap aparat pemerintah setempat dapat segera turun melihat langsung kondisi air sungai tangka yang sudah lama tercemar limbah pabrik tahu tersebut.

“Kejadiannya memang sudah lama sekitar 4 sampai 5 tahun dan sekarang kondisi sungai ini sudah sangat parah”, Sambung Armansyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sinjai, Arifuddin yang dikonfirmasi, tak menampik jika limbah dari pabrik tahu adalah salah satu penyebabnya.

Hal itu diketahui, dari peninjauan lapangan dan pemeriksaan yang dilakukan DLHK Sinjai belum lama ini sesuai intruksi Bupati Sinjai Andi Seto Gadhista Asapa.

Hanya saja dikatakan, limbah pabrik tahu bukanlah sumber satu-satunya penyebab air tercemar dan mengakibatkan bau menyegat, tetapi juga disebabkan oleh kebiasaan buruk sebagian masyarakat yang membuang langsung sampahnya ke saluran sungai.

Di satu sisi debit air yang kurang akibat musim kemarau sehingga air di Sungai Tangka tidak mengalir dan mengendap.

“Kita sudah turun sesuai perintah Pak Bupati menindaklanjuti keluhan masyarakat, Selain pabrik tahu dan kebiasaan masyarakat, juga karena terjadi penyempitan dan tingginya sedimentasi di sungai Tangka sehingga air tidak mengalir”, ujar Arifuddin yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/12/2019)

Untuk langkah antisipasi yang dilakukan, pihaknya mengaku telah menyurati dan melakukan pembinaan langsung terhadap seluruh pengusaha tahu tempe dan industri lainnya yang berada di Bantara sungai Tangka.

Termasuk mendorong pengusaha untuk mengurus izin usaha dan pembuatan Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) selama 30 hari kalender atau sebulan lamanya. Jika masih belum terpenuhi, Arifuddin menegaskan, maka unsur pidana berlaku di dalamnya.

“Dari 4 industri, hanya 1 yang memiliki izin usaha, makanya kita beri waktu untuk mengurus dan melengkapi izin dan membuat IPAL serta mematuhi aturan yang berlaku, kalau masih belum ada maka rananya Pidana sesuai UU 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup karena termasuk pencemaran lingkungan”, jelasnya. (Adi)

Editor/Andis

Komentar Facebook
loading...

BERITA TERBARU